Diposkan pada 18 July 2018

 

            Halo warga Sukabumi, apa kabar? Semoga sehat selalu. Pada kesempatan ini salah satu dokter umum di Rumah Sakit Betha Medika, dr. Puti Piranti akan memberikan informasi seputar penyakit stroke. Mari kita simak penjelasannya.

Apa itu stroke? Dan mengapa bisa terjadi?

            Stroke merupakan penyakit yang cukup sering ditemukan di masyarakat, dan merupakan penyebab kematian nomor satu di Indonesia, disusul oleh penyakit jantung koroner. Stroke adalah penyakit yang terjadi pada pembuluh darah otak. Seperti organ-organ lainnya, otak merupakan organ yang dialiri banyak pembuluh darah untuk membawa nutrisi dan oksigen ke otak. Stroke terjadi ketika fungsi otak terganggu akibat aliran pembuluh darah di otak mengalami gangguan, bisa karena sumbatan di pembuluh darah, atau karena pecahnya pembuluh darah tersebut.

            Stroke merupakan suatu kegawatdaruratan, karena gangguan aliran darah ke otak akan menyebabkan kerusakan sel-sel otak dalam waktu cepat. Setiap bagian di otak memiliki fungsi masing-masing, seperti untuk bergerak, berbicara, berpikir, dan lain-lain. Bagian otak yang rusak akan menyebabkan terganggunya fungsi tubuh yang dikendalikan oleh otak tersebut. Oleh karena itu, penanganan yang cepat dan tepat akan meminimalisasi tingkat kerusakan otak.

            Stroke diklasifikasikan menjadi: stroke akibat sumbatan/hambatan aliran pada pembuluh darah (stroke infark) dan stroke akibat pecahnya pembuluh darah di otak (stroke perdarahan/hemoragik). Stroke karena sumbatan lebih banyak terjadi, namun stroke akibat perdarahan lebih mengancam jiwa. Bayangkan pembuluh darah kita seperti selang air, apabila ada sumbatan tentu akan menghambat aliran air. Begitu juga apabila ada tekanan air yang terlalu tinggi maka lama-lama dinding selang yang tipis tidak mampu menahan tekanan sehingga bisa pecah.

Bagaimana tanda dan gejala stroke?

            Pasien dengan stroke paling sering datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan tiba-tiba mengalami lemah anggota gerak sebelah, atau sering juga datang dengan penurunan kesadaran. Gejala lain yang dapat terjadi pada stroke di antaranya adalah nyeri kepala hebat, pusing berputar (vertigo), muntah, hilangnya penglihatan secara tiba-tiba atau penglihatan ganda, sulit menelan sehingga tersedak, serta gangguan keseimbangan.

            Cara termudah dan tercepat yang dapat dikenali untuk mendeteksi stroke adalah dengan metode FAST yang merupakan singkatan dari Face (wajah), Arm (lengan), Speech (bicara), Time (Waktu). Face/wajah, mintalah orang untuk tersenyum, pada orang stroke salah satu sisi wajah dan bibir akan nampak tidak simetris, lebih rendah dari wajah di sebelahnya. Arm/lengan, mintalah orang tersebut untuk mengangkat kedua tangannya, pada orang stroke salah satu tangan akan nampak lebih rendah karena lemah, atau bahkan tidak bisa diangkat. Speech/bicara, mintalah orang tersebut untuk mengikuti kata-kata tertentu seperti “ra-ri-ru-re-ro”, atau “ular melingkar-lingkar di pagar”, pada orang stroke bicaranya akan nampak tidak jelas atau rero. Time/waktu, maksudnya adalah, apabila menemui gejala-gejala tersebut maka waktu respons sangat penting, segeralah datang ke Unit Gawat Darurat rumah sakit, jangan ditunda-tunda, karena semakin cepat mendapat pertolongan maka semakin banyak sel-sel otak yang dapat terselamatkan.

Siapa saja yang berisiko terkena stroke?

            Terdapat beberapa faktor risiko yang meningkatkan terjadinya stroke. Faktor penyakit seperti hipertensi/darah tinggi yang tidak terkontrol, karena hal ini dapat menyebabkan tekanan pembuluh darah semakin meningkat, termasuk pembuluh darah di otak. Orang dengan kencing manis/diabetes yang tidak terkontrol juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya stroke. Demikian juga dengan orang yang memiliki kolesterol tinggi, karena hal tersebut dapat menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah di otak. Faktor risiko lainnya adalah orang-orang dengan obesitas/kegemukan, merokok, dan memiliki penyakit jantung seperti gangguan irama jantung. Faktor lain yang tidak bisa dimodifikasi adalah faktor keturunan keluarga dengan penyakit stroke, usia yang semakin tua, dan kelainan pembuluh darah otak sejak lahir.          

Bagaimana penanganan dan pencegahan stroke?

            Seperti yang sudah disampaikan, waktu sangat berperan dalam penyakit stroke, sehingga bila menemukan gejala stroke segeralah bawa pasien ke IGD rumah sakit. Pasien akan dirawat oleh dokter spesialis saraf, kemudian akan dilakukan CT-Scan kepala untuk melihat jenis stroke-nya apakah sumbatan atau perdarahan, karena terapi yang diberikan pada keduanya sangat berbeda. Dampak stroke seperti kelumpuhan anggota gerak dapat berlangsung lama dan membutuhkan terapi jangka panjang. Untuk dapat benar-benar pulih, pada beberapa pasien dibutuhkan rehabilitasi medis seperti fisioterapi.

            Langkah utama untuk mencegah stroke adalah menerapkan gaya hidup sehat dan kenali faktor risiko stroke yang anda miliki. Apabila anda memiliki faktor risiko stroke, misalnya hipertensi, anda harus rutin memeriksakan tekanan darah anda ke fasilitas kesehatan dan mengikuti anjuran yang diberikan dokter. Gaya hidup sehat yang bisa diterapkan diantaranya adalah menjaga pola makan, tidak terlalu banyak mengkonsumsi makanan asin dan berlemak agar tidak memicu tekanan darah tinggi dan kolesterol. Olahraga secara teratur juga dapat mengendalikan tekanan darah, menurunkan kolesterol, serta membuat sistem peredaran darah lebi baik. berhenti merokok juga merupakan salah satu pencegahan yang dapat dilakukan. Gaya hidup yang sehat selain mencegah penyakit stroke juga tentunya mencegah penyakit berbahaya lainnya seperti serangan jantung.

            Demikian informasi yang dapat disampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat, terima kasih. Salam semakin sehat untuk kita semua dari kami keluarga besar RS Betha Medika !