Diposkan pada 21 March 2018


Sahabat Betha..! Selamat Pagi, Apa kabar hari ini ? mudah - mudahan semuanya dalam kondisi sehat ya, Seperti biasa, saatnya RS Betha Medika memberikan informasi seputar kesehatan,.. Kali ini Ahli Gizi RS Betha Medika, Putri Prehatini Pamungkas,S.Gz  akan berbagi informasi seputar " Sering Konsumsi Masakan Pedas, Amankah ??? " mudah-mudahan informasi ini dapat menambah luas wawasan kita tentang dunia kesehatan ya…
Indonesia telah menjadi salah satu negara yang terkenal dengan wisata kulinernya. Berbagai macam jenis makanan dan minuman dari berbagai daerah telah dikenal dan selalu berkembang hingga saat ini. Tidak heran bisnis kuliner menjadi salah satu usaha yang paling menjanjikan. Pada sebagian masyarakat Indonesia, mengonsumsi makanan pedas menjadi suatu keharusan. Hingga menjadi kebiasaan unik, mereka tidak bisa menikmati makanan tanpa rasa pedas. Bisnis makanan dengan tema pedas tidak jarang membuat orang penasaran. Bahkan semua makanan dengan embel-embel pedas selalu menjadi perhatian masyarakat penikmat wisata kuliner.
Nikmatnya kuliner pedas memang sudah menjadi daya tarik bagi penikmat wisata kuliner. Hadirnya tawaran level atau tingkat kepedasan menjadi tantangan bagi orang yang menyukai makanan pedas. Ketersediaan cabai yang digunakan untuk penghasil rasa pedas juga didukung dengan kondisi pertanian di Indonesia, dimana Indonesia merupakan salah satu negara penghasil cabai terbesar di dunia. Ada beberapa jenis cabai yang sering digunakan di Indonesia sebagai bumbu masakan. Diantaranya cabai merah, cabai hijau, cabai rawit, dan paprika.
Dalam kandungan cabai, terdapat zat yang disebut capsaicin. Zat inilah yang mengakibatkan rasa pedas. Rasa pedas sebenarnya bukan merupakan rasa yang dapat dirasakan oleh lidah. Rasa pedas merupakan sensasi yang muncul akibat capsaicin itu sendiri. Biasanya rasa yang lain (manis, asin, asam, dan pahit) memiliki reseptor sendiri dari saraf manusia. Sedangkan capsaicin penyebab rasa pedas diterima di bagian lidah oleh saraf sensorik khusus panas tinggi. Dari situlah sensasi pedas muncul. Reseptor saraf ini menyampaikan isyarat ke otak yang mengatakan bahwa sesuatu yang pedas telah dimakan. Kemudian otak merespon sinyal ini dengan menaikkan denyut jantung, meningkatkan pengeluaran keringat, dan melepaskan hormon endorfin (hormon yang memberi rasa tenang). 
Ragam kuliner pedas kini menjadi tren yang sangat digemari masyarakat. Ternyata makanan pedas juga memiliki nilai tambah atau manfaat. Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa makanan pedas dapat memberi efek termogenik dalam tubuh yang mengakibatkan pembakaran kalori lebih tinggi. Selain itu dalam cabai sendiri terkandung zat yang berfungsi sebagai anti kanker, antioksidan, dan anti radang (baik untuk penderita radang sendi). Manfaat lain yaitu dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan kesehatan jantung, dan mengurangi stess. 
Adapun bila kita mengonsumsi cabai atau makanan pedas terlalu banyak atau sering dapat mengakibatkan iritasi pada lidah, hingga menyebabkan kemampuan lidah dalam mengecap rasa bisa berkurang. Selain itu bila kita berlebihan dalam mengonsumsi makanan pedas, bisa mengakibatkan asam lambung naik yang membuat perut kita merasa tidak nyaman. Akibat lain, lapisan pelindung pada lambung menjadi berkurang yang dapat membuat kita rentan terhadap infeksi. Tentu saja kita tidak ingin hal tersebut terjadi pada diri kita. Untuk itu bijaklah dalam mengonsumsi makanan atau camilan. Mengonsumsi makanan pedas boleh saja. Namun tidak lupa perhatikan jumlah dan frekuensinya. Tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sering.
Sekalipun senang terhadap makanan pedas, kita pasti memiliki ambang batas kemampuan. Tak jarang setelah mengonsumsi makanan pedas muncul masalah seperti mulut dan tenggorokan terasa terbakar hingga perut terasa panas. Alhasil membuat kita mencari makanan atau minuman yang dijadikan penawar rasa pedas itu sendiri. Ada beberapa pilihan makanan dan makanan yang dapat dijadikan penawar rasa pedas, diantaranya susu dan turunannya seperti yoghurt dan keju, gula, air jeruk,  jus buah yang asam seperti tomat atau lemon, nasi, dan minyak zaitun.
Menjadi penikmat kuliner pedas tidak ada salahnya. Hanya kita perlu bijak dalam mengonsumsinya. Imbangi juga dengan makanan yang lebih sehat dan bernilai gizi tinggi, seperti sayuran dan buah-buahan. Semoga artikel ini bermanfaat. Eat better for a better life! 
Salam Semakin Sehat, Dari Kami Keluarga Besar RS Betha Medika.