Diposkan pada 10 January 2018

 


Sahabat Betha..! Selamat Siang, Apa kabar hari ini ? mudah - mudahan semuanya dalam kondisi sehat ya, Seperti biasa, saatnya RS Betha Medika memberikan informasi seputar kesehatan,.....Untuk Kali ini Dokter Spesialis Kulit & Kelamin RS Betha Medika, dr. Kartika Noviani Widyaningsih,SpKK akan berbagi informasi seputar " Mengenal dan Mencegah Budukan / Skabies " mudah-mudahan informasi ini dapat menambah luas wawasan kita tentang dunia kesehatan ya.........
Apakah anda atau keluarga anda pernah mengalami budukan? Apabila iya, maka artikel ini akan dapat membantu anda mengenali penyakit ini lebih jauh lagi. 
Budukan merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh kutu atau tungau bernama Sarcoptes scabiei, membuat kulit mengalami beruntus merah sangat gatal,  terutama pada malam hari. Budukan yang dalam istilah medis disebut skabies, masih merupakan masalah kesehatan masyarakat, terutama di wilayah dengan iklim tropis dan subtropis di seluruh dunia. Di Indonesia, skabies adalah salah satu penyakit kulit tersering yang ditemukan di Puskesmas.
Faktor yang berperan pada tingginya prevalensi skabies diantaranya kemiskinan, kepadatan penghuni rumah, tingkat pendidikan rendah, keterbatasan air bersih, dan perilaku kebersihan yang kurang. Oleh karena itu skabies banyak ditemukan di asrama, panti asuhan, pondok pesantren, penjara, dan tempat pengungsian. 
Kutu skabies ini memiliki tahap metamorfosis lengkap dalam siklus hidupnya, dimulai dari telur, larva, nimfa hingga bentuk dewasa. Tungau betina membuat terowongan dalam lapisan kulit terluar dan meletakkan 4-5 telur/hari hingga 6 minggu. Tungau akan menetap di dalam terowongan sepanjang siklus kehidupannya kisaran 30 hari.
Gatal merupakan gejala utama pada skabies, terutama pada malam hari, cuaca panas, atau saat berkeringat. Gatal biasanya timbul kisaran 14 hari sejak infestasi kutu. Daerah yang sering terinfestasi diantaranya sela jari, telapak dan pergelangan tangan, payudara, perut, pinggang, bokong, ketiak dan kelamin. Pada bayi lesi kulit dapat timbul dimana saja di seluruh tubuh, termasuk kulit kepala dan wajah. Kelainan kulit biasanya berupa bintil seperti kutu air, bintil bernanah, lecet, koreng dan sisik akibat garukan. Anak yang terkena skabies akan tampak letih, rewel karena kurang tidur akibat gatal, dan terkadang disertai demam dan pembesaran kelenjar getah bening jika sudah terkena infeksi sekunder. Untuk menegakkan diagnosis skabies cukup mudah bila gejala klinis khas skabies yaitu gatal pada malam hari, dan lesi kulit khas berupa terowongan bintil, bintil berisi cairan dan bintil bernanah pada tempat predileksi. Penyulit diagnosis skabies terjadi jika penderita datang dengan lesi kulit yang sudah disertai infeksi lain.
Infestasi skabies akibat transmisi dari orang lain, diantaranya dari anggota keluarga, teman, kunjungan ke panti, tempat penitipan anak, dll. Meskipun demikian skabies juga dapat terjadi pada orang bersih (scabies cultivated) dengan hygiene baik, tetapi pada mereka gatal tidak terlalu parah, dan daerah yang terkena biasanya hanya sela jari dan pergelangan tangan, dan bintil pada kulit tidak banyak. Pada skabies yang lebih berat atau skabies krustosa biasanya ditandai dengan lesi kulit berupa keropeng dan sisik yang luas, berbeda dengan gejala skabies pada umumnya, gatal pada skabies krustosa bersifat ringan, tetapi jenis scabies ini bersifat sangat menular dan jumlah kutu sangat banyak dari ribuan hingga jutaan kutu.
Skabies ditularkan melalui kontak langsung kulit dengan kulit penderita. Umumnya, penyakit ini diderita oleh orang yang tinggal berkelompok, misalnya pesantren, tempat kos dan tinggal sekamar. Skabies juga dapat tertular melalui medium lain seperti handuk, sprei, tempat tidur dan sofa berbahan kain. Biasanya jika salah satu anggota keluarga terkena skabies maka akan menginfeksi seluruh anggota keluarga lainnya. Bila Anda terkena skabies, segera kunjungi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dokter SpKK akan memeriksa kondisi tubuh anda bila positif terserang skabies, dokter akan memberikan resep obat-obatan berupa salep untuk membunuh kutu serta obat minum untuk mengurangi gatal. Antibiotika dipelukan apabila terjadi infeksi bakteri yang biasanya terjadi akibat garukan. Seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah, harus diobati pula untuk mencegah infeksi ulang.
Untuk mendukung pengobatan Anda, jagalah kondisi rumah agar selalu bersih dengan cara berikut:
? Cuci semua sprei, sarung bantal dan guling, handuk, pakaian yang anda dan keluarga pakai, sarung, mukena kerudung dan lainnya dengan air panas 60?C atau disimpan dalam plastic tertutup rapat minimal 72 jam untuk membantu membunuh tungau dan kuman lain yang menempel, keringkan, kemudian seterika.
? Bersihkan dan jemur sofa, tempat tidur, kasur, karpet, keset dan furnitur kain lainnya yang mungkin tertempel kutu tungau minimal dua kali seminggu, atau lakukan sedot debu.
? Gunakan obat-obatan sesuai dosis yang diresepkan dokter.
Pemberantasan skabies di asrama, panti asuhan, pondok pesantren maupun komunitas lain dengan kepadatan penghuni yang tinggi harus dilakukan serentak dan menyeluruh agar angka penularan skabies dapat dihindari, 
Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian, salam Semakin sehat dari kami keluarga besar Rumah Sakit Betha Medika.