Lainnya

Menampilkan 1-5 dari 287 hasil
Diposkan pada 11 April 2019

 

Selamat pagi pembaca. Banyak diantara kita yang menyukai traveling. Bukan hanya sekedar hobi, traveling bagi sebagian orang sudah menjadi kewajiban untuk meluangkan waktu mengunjungi tempat-tempat yang baru. Nah, selain menyenangkan, traveling itu juga bisa menguras tenaga kita dan membuat kita sakit. Oleh karena itu dibutuhkan persiapan yang cukup agar tubuh tetap sehat dan bisa menikmatinya. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan agar tetap sehat saat traveling.

1. Biasakan untuk selalu mencuci tangan 
Cuci tangan merupakan salah satu hal penting yang dapat dengan mudah dilakukan semua orang untuk menjaga kesehatan. Selama traveling anda akan bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, entah sudah berapa banyak hal yang anda sentuh dan membuat kuman serta bibit penyakit menempel pada tangan Anda. Cuci tangan dapat membunuh dan mengurangi kotoran yang hinggap pada tangan Anda. Terutama sebelum Anda makan dan minum.

2. Hati hati dalam memilih makanan dan minuman 
Berjalan-jalan mengunjungi berbagai tempat memberi kesempatan Anda menemukan makanan baru yang menarik hati. Tapi, tunggu dulu, sebaiknya Anda memilah kembali makanan dan minuman apa saja yang boleh dan tidak boleh Anda konsumsi. Misalnya Anda alergi terhadap suatu bahan makanan, pastikan anda tidak memakanannya.

3. Minum air putih yang cukup 
Minum air putih yang cukup adalah salah satu kunci menjaga kesehatan tubuh Anda saat traveling. Faktor perbedaan cuaca dan tingkat aktivitas Anda selama traveling juga perlu menjadi pertimbangan banyaknya cairan yang dibutuhkan oleh tubuh. Bila Anda lebih banyak berjalan kaki, bergerak, dan beraktivitas saat liburan, tingkatkan konsumsi cairan lebih dari biasanya.

4. Tidur yang cukup
Meskipun sedang seru jalan jalan, penting bagi Anda untuk tetap mematuhi aturan tidur yang baik. Beberapa situasi bisa membuat jadwal tidur Anda berantakan, namun tetap pastikan Anda mendapat kesempatan tidur yang cukup agar tidak mempengaruhi kondisi kesehatan Anda.

5. Lindungi tubuh dari paparan sinar matahari langsung.
Salah satu yang membuat tubuh drop saat traveling adalah terlalu lama dibawah sinar matahari. Untuk mengantisipasi hal ini, gunakanlah topi dan kacamata hitam untuk sedikit mengurangi paparan sinar matahari langsung.

6. Sebelum berangkat, pastikan tubuh dalam kondisi yang fit.
Periksalah kesehatan ke dokter jika diperlukan. Bila memang dibutuhkan vaksin tertentu untuk mendatangi suatu negara, lakukanlah. Bila memang ingin melakukan traveling yang ekstrim seperti mendaki atau diving, berolahraga rutin beberapa minggu sebelum berangkat traveling sangat direkomendasikan.

7. Selalu sediakan obat-obatan.
Yang terakhir tapi tidak boleh dilupakan adalah selalu sediakan obat-obatan selama traveling. Pasalnya, Anda tidak pernah tahu kapan hal-hal terburuk akan terjadi pada diri Anda. Beberapa obat yang mungkin Anda butuhkan:
- Obat demam seperti paracetamol atau ibuprofen
- Obat nyeri seperti natrium diclofenac, piroksicam, meloxicam.
- Obat flu dan batuk yang dijual bebas di Indonesia tapi mungkin tidak ditemukan dinegara lain.
- Obat alergi seperti cetirizine atau loratadine
- Obat lambung seperti ranitidine, omeprazole atau lansoprazole
- Obat diare seperti diatabs atau diaform, loperamide
- Obat-obat lainnya yang rutin Anda konsumsi, misalnya obat-obat antihipertensi, obat diabetes mellitus, obat-obatan jantung, dan lain lainnya
- Obat-obat luar misalnya untuk meredakan nyeri badan yang dijual dipasaran
- Jangan lupa konsumsi vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh Anda.

Jadi beberapa tips diatas bisa Anda terapkan untuk menjaga tubuh Anda dan mencegah sakit saat traveling. Banyak yang perlu dipertimbangkan saat traveling, termasuk kesehatan. Jangan hanya mementingkan barang-barang yang akan dibawa traveling saja atau pesawat murah saja atau kamera saja saat jalan-jalan, namun kesehatan Anda yang utama, bawalah obat-obatan yang kelak mungkin Anda perlukan agar traveling tetap menyenangkan.

Semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk share informasi kesehatan kepada kerabat dan juga saudara dirumah ya…
Salam semakin sehat dari kami, keluarga besar RS Betha Medika.

Diposkan pada 5 April 2019

 

 

Diposkan pada 20 March 2019

 

Autisme merupakan hal yang ditakuti bagi sebagian orang tua. Apakah anak saya menderita autisme? Bagaimana mengenali anak dengan autisme? Ke mana saya harus mencari bantuan? Apakah autisme bisa disembuhkan? Pada artikel ini akan dibahas mengenai autisme, bagaimana deteksi dini dan hubungannya dengan masa depan anak dengan autisme.

 

Pengertian autisme

Autisme atau yang sekarang disebut sebagai gangguan spektrum autisme (GSA) adalah kumpulan gangguan perkembangan dengan karakteristik lemahnya pada bidang interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku berulang atau minat terbatas. Angka kejadian autisme meningkat dari tahun ke tahun, namun sampai sekarang penyebab autisme masih belum diketahui secara pasti. Diduga faktor genetik dan faktor lingkungan merupakan penyebab dari gangguan ini.

 

Tanda dan gejala penderita autisme

Anak dengan autisme biasanya mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial-emosional timbal balik. Mereka sulit diajak bercakap-cakap, kurang sampai tidak memiliki emosi atau ekspresi yang sesuai untuk suatu keadaan, atau tidak memberi respons sama sekali jika dipanggil atau diajak bicara. Tidak adanya kontak mata, tidak ada ekspresi wajah, atau bahasa tubuh lainnya dapat menunjukkan anak menderita autisme. Untuk anak yang lebih besar, dimana pertemanan biasanya mulai terbentuk, anak dengan autisme sulit menjalin pertemanan sampai tidak menaruh minat terhadap teman.

Perilaku, minat, dan aktivitas anak dengan autisme sangat terbatas (stereotipik) dan sifatnya berulang (repetitif). Dalam berbicara atau interaksi dengan benda, anak biasanya menggerakan anggota tubuh tertentu berulang-ulang, menderetkan mainan, menumpuk kaleng, mebalik-balik benda atau lembaran buku, atau mengulangi perkataan orang (ekolalia). Anak cenderung melakukan rutinitas seperti ritual dan kaku. Anak hanya menyukai benda atau mainan tertentu.

Selain reaksi yang kurang terhadap rangsangan luar, anak dengan autisme dapat memberikan reaksi berlebihan atau reaksi yang tidak wajar terhadap rangsangan nyeri, suhu, suara, atau tekstur benda. Gejala-gejala ini sampai mengganggu interaksi sosial, aktivitas sekolah, bermain, atau fungsi kehidupan anak sehari-hari.

 

Waspada Red flags autisme

Sangatlah penting bagi orang tua, pengasuh, guru, atau masyarakat awam untuk mewaspadai red flags (tanda bahaya). Red flags adalah tanda atau gejala yang apabila masih terlihat pada usia tertentu, harus segera dilakukan intervensi. Red flags tersebut antara lain:

Tidak ada babbling (ocehan), tidak menunjuk, atau tidak menunjukkan mimik wajah yang wajar pada usia 12 bulan
Tidak ada kata-kata berarti pada usia 16 bulan
Tidak ada kalimat terdiri dari 2 kata yang bukan ekolalia pada usia 24 bulan
Hilangnya kemampuan berbahasa atau kemampuan sosial pada usia berapa pun
Anak tidak menoleh atau sulit menoleh apabila dipanggil namanya pada usia 6 bulan - 1 tahun

Apabila menemukan salah satu red flags, anak harus segera dibawa ke dokter spesialis anak untuk selanjutnya dilakukan skrining dan pemeriksaan lebih lanjut sehingga diagnosis dapat ditegakkan sedini mungkin dan intervensi dapat dilakukan atau anak dirujuk ke dokter spesialis saraf anak dan atau disiplin ilmu lainnya.

Sebaiknya anak dibawa ke dokter spesialis anak untuk dilakukan skrining perkembangan rutin mulai usia 9 bulan, 18 bulan, dan 30 bulan. Pada usia 18 bulan dan 24 bulan, atau pada usia berapapun anak ditemukan red flags, anak dilakukan skrining khusus untuk autisme. 

 

Penanganan autisme

Setelah anak didiagnosis autisme, anak membutuhkan konsultasi kepada ahli dari berbagai disiplin ilmu. Tidak semua anak dengan autisme memerlukan terapi obat, tetapi semua anak dengan autisme harus mendapatkan intervensi non-obat, diikuti dengan sekolah dan pembinaan kemampuan mandiri serta kemampuan bekerja. Penilaian kebutuhan intervensi dilakukan oleh dokter saraf anak dan dokter rehabilitasi medis bersama terapis yang sudah berpengalaman. Penentuan intervensi ini berdasarkan dari usia anak, beratnya gejala, dan kemampuan intelektual anak.

Beberapa program dan teknik intervensi telah terbukti kuat secara ilmiah untuk penanganan autisme. Beberapa intervensi tersebut antara lain: sensory integration, sensory-based intervention, intervensi perilaku (program verbal behaviour), intervensi wicara, dan sekolah. Intervensi dilakukan oleh terapis yang ahli dan berpengalaman di tempat-tempat pelayanan autisme. Pelatihan terhadap orang tua sesuai dengan intervensi yang didapat anak juga perlu dilakukan, sehingga orang tua tahu apa yang harus diperbuat dan secara tidak langsung mengurangi stres.

 

Masa depan anak dengan autisme

Berkembangnya ilmu kedokteran menimbulkan harapan pada penyakit autisme. Sudah semakin banyak instrumen skrining yang dapat dipakai untuk mendeteksi dini autisme dengan lebih spesifik. Semakin dini diagnosis autisme ditegakkan, maka semakin cepat pula intervensi yang dapat diberikan. Hal ini telah terbukti memberikan hasil yang lebih baik. Sebuah penelitian menunjukkan sebesar 20% anak dengan autisme dapat mandiri dalam kesehariannya atau hanya membutuhkan sedikit bantuan, 30% independen terbatas dan memerlukan bantuan, dan 50% masih membutuhkan pengawasan terus menerus atau memerlukan perawatan di tempat khusus atau rumah sakit.

 

Semoga bermanfaat, dan jangan lupa untuk share artikel ini kepada kerabat dan keluarga dirumah yaa..

Salam semakin sehat dari kami, keluarga besar RS Betha Medika.

Diposkan pada 13 March 2019

INFO LOWONGAN KERJA

Rumah Sakit yang sedang berkembang di Karawang membutuhkan tenaga KASIR dengan criteria sebagai berikut:

· Pria/Wanita usia max 27 tahun

· Fresh Graduate, diutamakan Pengalaman min 1 tahun

· Minimal D3 Akuntansi

· Teliti, Jujur dan Bertanggung jawab

· Sehat Jasmani dan Rohani

· Bersedia bekerja dibawah tekanan (3 shift dan Lembur)


Jika  anda merasa memenuhi kualifikasi kriteria yang kami butuhkan segera kirimkan surat lamaran, CV dan data penunjang lainnya ke:


RSIA MITRA FAMILY
Up : Bag. Personalia
Jl. Raya Galuh Mas KarawangTelp. 0267 8458327

Email : hrd@rsmitrafamily.com

Diposkan pada 6 March 2019

 

Luka dekubitus juga dikenal dengan istilah luka tekan (pressure ulcer / bedsores). Luka dekubitus adalah luka terbuka pada permukaan kulit yang sering muncul pada orang yang mengalami hambatan dalam pergerakan atau (mobilitas fisik) terutama dijumpai pada lansia, penyandang disabilitas atau pada orang yang terlalu lama terbaring di tempat tidur dan kondisi lain yang mempengaruhi aliran darah, seperti diabetes tipe 2 yang mana dapat meningkatkan risiko terbentuknya luka (ulkus decubitus). Tingkat keparahan ulkus decubitus dapat bervariasi ,mulai dari lebam, kemerahan pada kulit, hingga luka terbuka pada kulit yang dapat memperlihatkan otot bahkan tulang.

Dekubitus muncul dimana pada saat kulit menerima tekanan kuat dalam waktu singkat atau tekanan ringan namun dalam waktu yang cukup lama. Penekanan yang demikian pada kulit akan menyebabkan gangguan aliran darah sehingga daerah tersebut mengalami kekurangan oksigen dan makanan. Kurangnya pasokan oksigen dan makanan menyebabkan jaringan menjadi rusak dan membentuk luka (ulkus). gangguan aliran darah pada kulit dalam jangka waktu lama, juga menyebabkan tidak adanya sel darah putih yang diperlukan untuk memerangi infeksi. Ketika ulkus sudah terbentuk pada kulit, bakteri dapat menginfeksi dan merusak jaringan kulit.

Berikut beberapa gejala ulkus decubitus yang sering kali terjadi pada bagian tubuh yang tidak memiliki jaringan lemak yang tebal serta sering mengalami kontak dengan tempat tidur atau kursi roda.

Bahu dan belikat,
Siku,
Belakang kepala atau sisi kepala,
Belakang lutut, tumit, dan pergelangan kaki
Sekitar tulang belakang
Sekitar tulang ekor
Bokong

Tanda gejala umum pada penderita ulkus dekubitus adalah :

Perubahan warna kulit
Bengkak.
Muncul cairan ( nanah)
Perubahan suhu kulit
Luka terbuka pada kulit
Kulit menjadi lunak atau lebih keras dibandingkan jaringan sekitarnya

Berdasarkan tahap perkembangan gejala, ulkus dekubitus dibagi menjadi beberapa tingkatan (grade), yaitu :

Dekubitus tingkat 1

Merupakan dekubitus ringan yang ditandai dengan perubahan warna kulit kemerahan atau ungu kebiruan. Pada tingkat ini kulit masih dalam keadaan utuh dan tidak melepuh. Namun kulit terasa hangat, lunak, keras, terasa gatal dan sakit.

Dekubitus tingkat 2

Pada tingkat 2 ini kulit pada daerah yang mengalami ulkus mengalami kerusakan di bagian kulit luar (epidermis) dan kulit dalam (dermis). Daerah ulkus akan terlihat seperti luka terbuka atau melepuh.

Dekubitus Tingkat 3

Pada tingkat 3 ini kulit mengalami kerusakan secara menyeluruh. Kerusakan kulit ini diikuti dengan kerusakan jaringan lemak di bawahnya sehingga terlihat seperti lubang pada kulit.

Dekubitus Tingkat 4

Pada tingkat 4 ini mengalami kerusakan yang parah , disertai nekrosis atau kematian pada jaringan lainnya di sekitar ulkus, seperti jaringan otot dan tulang. 

Cara merawat dan mencegah decubitus :

1. Mengganti Posisi tubuh  

2. Jangan menggosok kulit dan bagian yang luka terlalu keras

3. Gunakan Krim Pelembab kulit

4. Jaga permukaan selalu bersih dan kering

5. Gunakan alas berupa guling atau bantal pada area yang bersentuhan dengan ranjang ( umumnya area bokong, tulang ekor, tumit dan betis)

6. ganti posisi 1-2 jam untuk mengurangi tekanan atau gesekan pada satu bagian saja.

7. Menjaga nutrisi dan pola makan

8. Tetap lakukan control ke dokter secara berkala untuk perawatan lebih lanjut.

Semoga bermanfaat, jangan lupa untuk share artikel ini kepada kerabat dan keluarga dirumah ya.

Salam semakin sehat dari kami, Keluarga Besar RS Betha Medika.