Lainnya

Menampilkan 1-5 dari 267 hasil
Diposkan pada 6 December 2018

 

Gastritis adalah suatu kondisi dimana lapisan kulit dalam lambung meradang atau membengkak. Gastritis atau juga sering disebut sebagai radang lambung, dapat muncul secara mendadak (gastritis akut) atau berlangsung dalam waktu yang lama (gastritis kronis). Orang awam sering menyebut gastritis adalah maag,.

Kondisi ini tidak berbahaya dan dapat disembuhkan dengan pengobatan tertentu. Namun, dalam beberapa kasus, penyakit gastritis adalah kondisi yang dapat menjadi gejala penyakit kronis. penyakit ini lebih banyak dijumpai dalam orang-orang yang mengonsumsi obat penghilang rasa sakit, anti nyeri, atau kecanduan alkohol. Risiko penyakit ini bisa dikurangi dengan cara mengurangi faktor-faktor pemicunya.

Apa bedanya maag dan gastritis?

Maag adalah istilah yang digunakan orang awam untuk menggambarkan suatu kondisi dengan kumpulan gejala seperti keluhan sakit perut, mual, muntah, dada terasa perih seperti terbakar, kembung, begah, dan mulut terasa asam. Maka, maag sendiri sebenarnya bukan penyakit, melainkan sebagai gejala yang menandakan adanya penyakit tertentu.

Gejala-gejala di atas dapat muncul pada orang yang mengalami gastritis, tapi penyakit-penyakit lain seperti GERD dan ulkus peptikum juga dapat memiliki gejala-gejala yang sering kali disebut sebagai maag oleh orang awam.

Definisi ilmiah maag sendiri belum ada hingga saat ini. Bisa jadi apa yang seseorang maksud dengan maag, sebenarnya adalah gastritis. Namun, ini hanya bisa dipastikan dengan pemeriksaan terlebih dahulu oleh dokter.

Seperti yang dijelaskan di atas sebelumnya, gastritis adalah peradangan pada bagian mukosa lambung. Kondisi penyakit gastritis akut dan kronis lama-lama bisa menyebabkan tukak lambung atau peptic ulcer.  Kondisi ini adalah luka yang menyakitkan yang berkembang di lapisan lambung atau usus kecil. Tukak lambung dapat terjadi di daerah di mana adanya asam atau enzim. Setelah diduga disebabkan oleh stres dan penumpukan asam, sekarang penelitian telah menemukan penyebab utamanya adalah infeksi bakteri.

Apa saja tanda-tanda dan gejala gastritis?

Orang yang menderita kondisi ini sering tidak memiliki gejala apa pun sampai didiagnosis. Namun, Anda harus waspada jika memiliki gejala-gejala ini:

hilang nafsu makan
mual dan muntah
nyeri di perut bagian atas
merasa kenyang meski baru makan sedikit

Apa penyebab gastritis?

Penyebab umum gastritis adalah:

Mengonsumsi obat-obatan antinyeri seperti aspirin atau obat antiradang non-steroid (NSAID)
Sering mengonsumsi alkohol
Infeksi perut yang disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori
Penyakit autoimun (seperti anemia parah)
Refluks cairan empedu menuju lambung
Penyalahgunaan kokain
Stres

Kenapa obat antinyeri harus dihindari?

Efek samping obat antinyeri bisa berdampak adanya kerusakan saluran cerna. Kerusakan pada saluran cerna ini disebabkan karena mekanisme dan bahan-bahan dari obat ini dalam menghambat enzin COX (siklooksigenase) di lambung. Secara sederhana, enzim COX ini adalah enzim yang bertanggung jawab terhadap rangsangan nyeri.

Ternyata, selain bertanggung jawab terhadap mekanisme nyeri, enzim COX juga bertanggung jawab dalam pertahanan lapisan kulit dalam lambung. Pasalnya, penghambatan enzim COX di lambung dari obat antinyeri akan menyebabkan pengikisan dinding lambung.

Akibatnya, lambung jadi rentan teriritasi oleh asam lambung apabila terpapar terus menerus. Sehingga, perdarahan lambung dapat terjadi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, lambung akan berlubang. Dalam kondisi medis, kondisi ini disebut sebagai perforasi lambung.

Perforasi lambung dapat menyebabkan isi lambung bocor ke rongga perut dan menimbulkan infeksi. Nah, jika rongga perut sudah terinfeksi, hal tersebut akan menyebabkan peritonitis, yaitu infeksi pada jaringan yang melapisi bagian dalam perut. Infeksi ini dapat mengakibatkan komplikasi yang membuat berbagai organ dalam tubuh berhenti berfungsi. Kondisi ini termasuk gawat darurat medis dan bisa mengancam nyawa.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk gastritis?

Ada beberapa hal yang bisa membuat Anda terkena kondisi ini. Faktor risiko penyebab penyakit gastritis adalah:

Sering mengonsumsi makanan pedas atau yang kadar lemaknya tinggi seperti gorengan
Gaya hidup tidak sehat seperti merokok atau kebanyakan minum minuman beralkohol
Kelebihan berat badan atau obesitas
Sedang menjalani pengobatan tertentu seperti antibiotik, aspirin, steroid, dan pil KB
Stres atau kelelahan
Pola makan berantakan dan tidak teratur
Sering mengonsumsi obat penghilang rasa sakit
Penyakit lain yang disebabkan oleh infeksi: HIV/AIDS, penyakit Crohn, dan penyakit infeksi bakteri lainnya
Alergi makanan, khususnya bagi orang yang memiliki esophagitis eosinophilic (EoE, gangguan pencernaan). Kondisi ini bisa menjadi pemicu gastritis. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli alergi untuk mendeteksi alergi makanan guna menghindari kondisi gastritis.

Pengobatan  yang bisa di lakukan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit gastritis?

Gaya hidup dan pengobatan rumahan di bawah ini mungkin dapat membantu mengatasi gastritis akut ataupun kronis yang Anda alami:

Makan sedikit-sedikit tapi sering
Makan masakan yang matang
Cuci tangan sebelum makan untuk menghindari infeksi
Ikuti arahan dokter, jangan mengonsumsi obat tanpa resep atau berhenti minum obat tanpa izin dokter

Pencegahan

Bagaimana mencegah maag dan gastritis tidak kambuh lagi?

1. Tidak merokok

Nikotin dalam rokok memiliki efek relaksasi otot, sehingga otot saluran pencernaan yang seharusnya mempertahankan agar isi lambung tidak naik ke atas menjadi lemah. Hal ini menyebabkan refluks asam lambung, Perokok juga cenderung mudah batuk, di mana setiap kali batuk perut akan tertekan sehingga semakin memperbesar risiko asam lambung naik. Selain rokok, alkohol dan cokelat juga memiliki efek yang mirip dengan nikotin.

2. Ubah pola makan Anda

Untuk mencegah kondisi ini kambuh kembali bisa sesederhana dengan mengubah pola makan harian Anda.

Biasakan makan lebih sering dengan porsi yang lebih sedikit. Jika Anda biasa makan 3 kali sehari, coba ubah menjadi makan 5-6 kali sehari dengan porsi yang lebih sedikit.
Hindari makan hingga terlalu kenyang karena jika isi lambung terlalu penuh maka isi lambung bisa naik ke tenggorokan.
Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang bersifat asam seperti makanan pedas, jeruk, dan kopi. Makanan atau minuman bersifat asam memicu rasa nyeri pada ulu hati.
Hindari makan sebelum tidur karena meningkatkan risiko naiknya isi lambung.

3. Kurangi berat badan

Anda yang kegemukan memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi lambung yang meradang. Ini disebabkan  karena cenderung makan dalam porsi besar, yang meningkatkan tekanan dalam lambung sehingga isi lambung mudah naik keluar.

4. Hindari konsumsi obat pereda nyeri tanpa pengawasan dokter

Obat anti nyeri yang sering digunakan salah satunya adalah obat anti inflamasi non-steroid (OAIN). Obat ini memiliki efek meningkatkan asam lambung sehingga Anda menjadi rentan mengalami nyeri ulu hati sehingga penggunaan OAIN sebaiknya atas nasihat dokter.

5. Perhatikan posisi tidur Anda

Ingatlah untuk tidur miring ke kiri, dengan posisi bantal agak tinggi. Berbaring telentang di tempat tidur datar dan bantal yang rendah dapat menyebabkan gejala muncul. Sebab pada kondisi ini, tenggorokan dan perut Anda berada pada tingkat yang sama dan membuat asam lambung mudah mengalir ke kerongkongan Anda.

Semoga Bermanfaat, Jangan lupa untuk Share Artikel ini kepada kerabat dan keluarga yaa!!

Salam semakin sehat dari kami keluarga besar RS Betha Medika.

Diposkan pada 26 November 2018

Dari tanggal 24 dan 25 november ini jajaran tenaga medis dan juga lainya memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang ke - 54 yang bertempat di Balai Kota Sukabumi, dan Rs Kartika Kasih pun berpartisipasi dalam acara memperingati HKN ke-54 ini
.
Dalam acara ini banyak instansi - instansi yang ikut memeriahkan dan juga mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), untuk selalu menjaga hidup sehat itu harus di mulai dari diri kita sendiri



Ayo semuanya kita mulai menjaga kesehatan kita untuk selalu sehat. Karna sehat itu bahagia loh
.
Sepertu tema HKN ke - 54 tahun 2018 ini "Ayo Hidup Sehat, mulai dari Kita"
.
Salam sehat!!!!

Diposkan pada 21 November 2018

 


Sahabat Betha..!
Selamat Sore, Apa kabar hari ini ? mudah - mudahan semuanya dalam kondisi sehat ya, Seperti biasa, saatnya RS Betha Medika memberikan informasi penting untuk para pembaca setia kami,.. Kali ini Dokter Umum RS Betha Medika, dr. Mia Tajri, akan berbagi informasi seputar " Apa Itu Tuberculosis ?."
mudah-mudahan informasi ini dapat menambah luas wawasan kita semua tentang dunia kesehatan ya , ......
Tuberculosis (TB atau TBC) atau biasa juga dikenal dengan “flek paru” adalah penyakit menular yang disebabkan infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Penyakit ini bila tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian.
Berdasarkan laporan WHO, meskipun jumlah kematian akibat TBC menurun 22% antara tahun 2000 dan 2015, namun TBC masih menempati peringkat ke-10 penyebab kematian tertinggi di dunia pada tahun 2016. Oleh sebab itu hingga saat ini TBC masih menjadi prioritas utama di dunia.
Di indonesia, TBC merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Angka prevalensi TBC Indonesia pada tahun 2014 sebesar 297 per 100.000 penduduk. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang tidak menyadari atau bahkan tidak tahu tentang bahaya TBC dan bagaimana pengobatannya.
Penyakit TBC menular ketika pengidap TB batuk atau bersin dari mulutnya yang berisi kuman M. Tuberculosis ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Biasanya penularan didapat dari kontak yang lama dengan penderita TBC, seperti anggota keluarga atau teman.
Daya penularan TBC dari penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari paru, yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan dahak. Makin tinggi derajat ke-positif-an hasil pemeriksaan dahak, makin besar resiko penularannya. Salah satu faktor penentu seseorang bisa terkena penyakit TBC atau tidak adalah sistem imun tubuhnya. Semakin kuat daya tahan tubuh Anda, semakin kecil kemungkinannya untuk tertular penyakit TBC. Orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah biasanya cenderung lebih mudah terinfeksi. Lansia, orang yang mengidap HIV/AIDS, orang yang menderita kanker, diabetes, ginjal, orang yang memakai obat yang mempengaruhi ketahanan tubuhnya, beresiko untuk terinfeksi TBC karena sistem imunnya tidak mampu melawan pertumbuhan bakteri.
Kuman TBC dapat menyerang bagian tubuh manapun, tetapi paru-paru paling sering terkena. Gejala yang timbul dapat dibagi menjadi gejala yang umum/sistemik dan khusus.
• Gejala umum/sistemik dapat berupa; batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu, batuk bisa disertai dahak bercak darah, demam yang tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Penurunan nafsu makan dan berat badan, perasaan tidak enak (malaise), serta senantiasa lemah.
• Gejala khusus tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar akan menimbulkan suara ‘mengi’, suara napas melemah yang disertai sesak. Bila ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru) dapat disertai dengan keluhan sakit dada. Bila mengenai tulang maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang. Bila mengenai lapisan pembungkus otak (meningen) disebut meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi bila diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa atau terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikan vaksin BCG (dalam 3-7 hari) . Selain dari pemeriksaan wawancara (anamnesa), untuk mendiagnosa seseorang terkena penyakit TBC harus dilakukan juga pemeriksaan fisik oleh dokter, dan juga di tunjang dengan pemeriksaan laboratorium darah dan dahak serta pemeriksaan radiologi.
Apabila seseorang terdiagnosis terkena penyakit TBC, penderita akan diberikan Obat Anti Tuberculosis (OAT) yang berlangsung minimal 6 bulan dan jangan terputus. Pengobatan ini diminum dibawah pengawasan guna memperhatikan dampak efek sampingnya dan meyakinkan pengobatannya sudah selesai. Beberapa efek samping yang mungkin disebabkan dari OAT diantaranya mual, muntah, demam, kulit kemerahan, kulit tampak kuning. Bila penderita mengeluhkan beberapa gejala efek samping tersebut, agar langsung memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan terdekat.
Tingkat keberhasilan pengobatan TBC dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: Faktor pasien : pasien tidak patuh minum obat, pasien berpindah-pindah pelayanan kesehatan, dan penyakit TBC-nya termasuk yang resisten terhadap OAT. Faktor Pengawas Minum Obat (PMO) : tidak ada PMO, sehingga tidak ada yang memantau pasien pada saat pengobatan. Faktor obat : suplai obat terganggu, sehingga pasien menunda pengobatan atau tidak meneruskan minum obat. Apabila pengobatan terputus atau terhenti di tengah jalan, maka akan memberikan dampak yang buruk bagi pasien, tidak hanya menjadi lebih parah, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Pencegahan dan pengendalian faktor resiko TBC dapat dilakukan dengan cara: membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, membudayakan perilaku etika saat batuk (terutama penderita TBC), melakukan pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat, peningkatan daya tahan tubuh, penanganan penyakit penyerta TBC, penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TBC di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan diluar Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
ETIKA SAAT BATUK DAN BERSIN
1. Tutup mulut dan hidung anda dengan tissue saat batuk atau bersin, atau tutup mulut dan hidung anda dengan lipatan lengan bukan dengan telapak tangan. Buanglah tissue yang telah digunakan ke tempat sampah.
2. Gunakan masker yang menutup hidung dan mulut.
3. Cuci tangan Anda segera dengan air mengalir dan sabun, atau bersihkan tangan anda dengan alkohol hand rub.
Semoga Bermanfaat, dan jangan lupa untuk share artikel ini kepada kerabat dan keluarga dirumah yaaa..
Salam semakin sehat dari kami, keluarga besar RS Betha Medika.
 

Diposkan pada 12 November 2018

Hari Kesehatan Nasional di peringati setiap tanggal 12 November, di tahun 2018 sekarang tema Hari Kesehatan Nasional yaitu "Aku Cinta Sehat" sedangkan subtema HKN 2018 adalah "Ayo Hidup Sehat, Mulai Dari Kita"

"Ayo Hidup Sehat, Mulai Dari Kita" tema ini mengajak kita semua untuk selalu berpikir sehat dan menjaga pola hidup sehat, mari kita wujudkan hidup sehat di mulai dari kita

RS Kartika Kasih mengucapkan Selamat Hari Kesehatan Nasional ke-54

Ayo Hidup Sehat, Mulai Dari Kita

Diposkan pada 12 November 2018

Kami RSIA Mitra Family, perusahaan yang bergerak dibidang Pelayanan Kesehatan, memberikan kesempatan kepada lulusan terbaik untuk bergabung bersama kami untuk Bagian Perawat

Syarat ketentuan :
Kualifikasi
1. Pendidikan minimal D3 Atau S1 Ners
2. Usia maximal : 27 Tahun
3. Memiliki STR
4. Loyalitas dan Komunikatif